Minggu, 27 Januari 2013

Efektivitas Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) Dalam Pembelajaran Matematika Pada Siswa Kelas VIIG SMP Nasional Makassar


A. Latar Belakang Masalah
Tujuan pendidikan nasional pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pencapaian tujuan pembangunan nasional yang dituangkan dalam kurikulum pendidikan nasional yang berbunyi : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri menjadi warga negara yang demokratis serta tanggung jawab, undang-undang sisdiknas No 20 tahun 2003 (2007:98). Dalam upaya untuk memajukan suatu kehidupan bangsa dan negara sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan maka didalamnya terjadi proses pendidikan atau proses belajar mengajar akan memberikan pengertian pada pandangan dan penyesuaian bagi seseorang atau siterdidik kearah kematangan dan kedewasaan. Dengan proses ini akan membawa pengaruh terhadap perkembangan jiwa dan potensi seseorang peserta didik kearah yang lebih dinamis baik terhadap bakat atau pengalaman, moral, intelektual, maupun fisik. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya salah satunya pada mata pelajaran matematika. Karena matematika dipandang sebagai mata pelajaran yang memegang peranan penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Berdasarkan hasil observasi di kelas VIIG SMP Nasional Makassar, hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika masih dalam tataran yang sangat rendah. Nilai-nilai yang diperoleh dari kelas VIIG baik dari nilai tugas harian dan ulangan harian ternyata masih ada sebagian siswa yang belum mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan di sekolah. Pemahaman siswa yang rendah antara lain disebabkan karena pada umumnya dalam proses pembelajaran yang diterapkan di SMP masih cenderung bersifat konvensional dengan hanya mendengar ceramah, tanya jawab, pemberian tugas dan pembelajarannya didominasi oleh guru dan sedikit melibatkan siswa. Sehingga siswa menjadi cepat bosan dan malas dalam mengikuti materi pelajaran. Selain itu interaksi antara guru dan siswa selama proses pembelajaran sangat minim. Akibatnya penguasaan mereka terhadap materi yang diberikan tidak tuntas. Dengan demikian aktifitas belajarnya menjadi rendah. Hal tersebut berimplikasi langsung pada proses pembelajaran di kelas yaitu pada situasi kelas akan menjadi pasif karena interaksi hanya berlangsung satu arah serta guru kurang memperhatikan dan memanfaatkan dan potensi-potensi siswa serta gagasan mereka sebagai daya nalar (Widiana, 2006). Untuk dapat memahami suatu konsep atau teori dalam matematika bukanlah suatu pekerjaan mudah. Sehingga untuk mempelajari matematika dengan baik diperlukan aktivitas belajar yang baik. Untuk mengatasi kelemahan dalam model pembelajaran Konvensional maka guru dituntut untuk dapat berkreasi dalam menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat. Salah satu pendekatan pembelajaran yang cocok dalam pembelajaran adalah pendekatan RealisticMathematics Education (RME). Pembelajaran dengan pendekatan RealisticMathematics Education (RME) merupakan salah satu tipe pembelajaran yang terkait dengan dunia nyata dimana dalam pendekatan pembelajaran ini menekankan pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Hal ini perlu dilakukan agar siswa bisa aktif dalam proses pembelajaran. Adanya perbedaan dari kedua model pembelajaran tersebut sangat menentukan efektifitas suatu pembelajaran dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tentang “Efektifitas Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dalam Pembelajaran Matematika pada Siswa Kelas VIIG SMP Nasional Makassar”.

B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) efektif dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIIG SMP Nasional Makassar?”

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pendekatan RealisticMathematics Education (RME) dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIIG SMP Nasional Makassar.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagi siswa, dapat menambah pengetahuan terhadap konsep matematika serta dapat mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari. 
  2. Bagi Guru, sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan model atau pendekatan dalam pembelajaran yang tepat sehingga dapat menunjang prestasi belajar siswa. 
  3. Bagi sekolah, sebagai bahan masukan untuk memperbaiki strategi pembelajaran khususnya sekolah tempat penelitian berlangsung.
  4. Bagi peneliti, dapat memberikan informasi bagi yang ingin melaksanakan penelitian lanjutan.
E. Tinjauan Pustaka
1. Efektifitas 
Dalam kamus Inggris-Indonesia karangan Echols dan Shadily (1977: 207), efektivitas berasal dari kata “effective”, yang artinya “berhasil” atau “ditaati”. Efektivitas (berjenis kata benda) berasal dari kata dasar efektif (kata sifat). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga tahun 2003, halaman 284 yang disusun oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan nasional, efektif adalah: (1) ada efeknya (akibatnya, pengaruh, kesannya), (2) manjur atau mujarab, (3) dapat membawa hasil; berhasil guna, (4) mulai berlaku. Sementara itu, efektivitas memiliki pengertian ‘keefektifan’. Keefektifan adalah: (1) keadaan berpengaruh; hal berkesan, (2) kemanjuran; kemujaraban, (3) keberhasilan, (4) hal mulai berlakunya. Hidayat (1986) mengatakan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas, dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai makin tinggi efektivitasnya. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa pengertian efektivitas pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi antar siswa maupun antara siswa dengan guru dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penekanan efektifitas pada penelitian ini adalah sejauh mana keberhasilan pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) pada pencapaian tujuan pembelajaran. Efektifitas pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) didukung oleh empat komponen keefektifan, yaitu: (1) hasil belajar siswa atau ketuntasan klasikal, (2) aktivitas siswa, (3) respon siswa, dan (4) aktivitas guru.
2. Belajar 
Pengertian belajar dapat kita temukan dalam berbagai sumber atau literatur. Meskipun kita melihat ada perbedaan-perbedaan di dalam rumusan pengertian belajar tersebut dari masing-masing ahli, namun secara prinsip kita menemukan kesamaan-kesamaannya. Burton, dalam sebuah buku “The Guidance of Learning Avtivities”, merumuskan pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan invidu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Winkel (1996: 53) seorang kognitivis, menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Illeris (2000) dan Ormorod (1995) seperti yang dikutip Wikipedia (diakses 2 September 2009) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang membawa bersama-sama pengaruh dan pengalaman kognitif, emosional, dan lingkungan untuk memperoleh, meningkatkan atau membuat perubahan di dalam pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan cara pandang (world views) dari seseorang. Ternyata ada suatu benang merah yang dapat ditarik dari berbagai pemaknaan mengenai belajar, bahwa belajar merujuk kepada suatu proses perubahan perilaku atau pribadi atau perubahan struktur kognitif seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu, hasil interaksi aktifnya dengan lingkungan atau sumber-sumber pembelajaran yang ada di sekitarnya.
3. Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Menurut Duffy dan Roehler (1989) pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimilki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian kejadia-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa (Winkel, 1991). Instruction atau pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. (Gagne dan Briggs 1979:3) Proses pembelajaran dialami setiap orang sepanjang hayat serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran merupakan interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Pada dasarnya Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan , guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik. Di dalam pembelajaran dapat berlangsung dengan atau tanpa hadirnya guru. Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi.
4. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari. Salah satu komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi adalah strategi matematika, yang sesuai dengan (1) topik yang sedang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual siswa, (3) prinsip dan teori belajar, (4) keterlibatan siswa secara aktif, (5) keterkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari, (6) pengembangan dan pemahaman penalaran matematis. Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Van de Henvel-Panhuizen, bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari, maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika. Ausubel (Suparno, 2001) menyatakan bahwa pembelajaran secara bermakna adalah pembelajaran yang lebih mengutamakan proses terbentuknya suatu konsep daripada menghafalkan konsep yang sudah jadi. Konsep-konsep dalam matematika tidak diajarkan melalui definisi, melainkan melalui contoh-contoh yang relevan dengan melibatkan konsep tertentu yang sudah terbentuk dalam pikiran siswa. Pembelajaran secara bermakna terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka, tidak hanya sekedar menghafal. Berdasarkan pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan suatu bentuk kegiatan pembelajaran yang mengutamakan keterlibatan siswa untuk membangun pengetahuan matematikanya dengan caranya sendiri. Dalam kegiatan tersebut guru berperan sebagai fasilitator dan mediator. Sebagai fasilitator, guru menyediakan berbagai sarana pembelajaran yang memudahkan siswa membangun pengetahuan matematikanya sendiri. Sebagai mediator, guru menjadi perantara dalam interaksi antar siswa atau antara siswa dengan ide matematika dan menghindari pemberian pendapatnya sendiri ketika siswa sedang mengemukakan pendapat.
5. Realistic Mathematics Education (RME) atau Pembelajaran Matematika Realistik (PMR)
1) Latar Belakang Pembelajaran Matematika Realistik
PMR pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa yang lalu. Lebih lanjut Soedjadi menjelaskan bahwa yang dimaksud realitas yaitu hal-hal yang nyata atau konkret yang dapat dipahami atau diamati peserta didik lewat membayangkan. Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan ini disebut juga kehidupan sehari-hari peserta didik. Menurut Marpaung (2001:3), PMR dilandasi oleh pandangan bahwa siswa harus aktif, tidak boleh pasif. Siswa harus aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuan matematika. Siswa didorong dan diberi kebebasan untuk mengekspresikan jalan pikirannya, menyelesaikan masalah menurut idenya, mengkomunikasikannya, dan pada saatnya belajar dari temannya sendiri. Dari uraian di atas, jelas bahwa dalam PMR pembelajaran tidak dimulai dari definisi, teorema atau sifat-sifat kemudian dilanjutkan dengan contoh-contoh, seperti yang selama ini dilaksanakan di berbagai sekolah. Namun sifat-sifat, definisi dan teorema itu diharapkan seolah-olah ditemukan kembali oleh siswa melalui penyelesaian masalah kontekstual yang diberikan guru di awal pembelajaran. Jadi dalam PMR siswa didorong atau ditantang untuk aktif bekerja, bahkan diharapkan dapat mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan yang diperolehnya.
2) Prinsip pembelajaran matematika realistik
Gravemeijer (1994:90-91), mengemukakan bahwa ada tiga prinsip kunci (utama) dalam PMR. Ketiga prinsip tersebut dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
1. Penemuan kembali secara terbimbing dan proses matematisasi secara progresif (guided reinvention and progressive mathematizing)
Prinsip ini menghendaki bahwa, dalam PMR melalui penyelesaian masalah kontekstual yang diberikan guru di awal pembelajaran, dengan bimbingan dan petunjuk guru yang diberikan secara terbatas, siswa diarahkan sedemikian rupa sehingga, seakan-akan siswa mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika, sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu ditemukan. Prinsip ini mengacu pada pandangan kontruktivisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari guru kepada siswa, melainkan siswa sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.
2. Fenomena yang bersifat mendidik (didactical phenomenology) 
Prinsip ini terkait dengan suatu gagasan fenomena didaktik, yang menghendaki bahwa di dalam menentukan suatu materi matematika untuk diajarkan dengan pendekatan PMR, didasarkan atas dua alasan, yaitu: (1) untuk mengungkapkan berbagai macam aplikasi materi itu yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan (2) untuk dipertimbangkan pantas tidaknya materi itu digunakan sebagai poin-poin untuk suatu proses matematisasi secara progresif. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa prinsip ke-2 PMR ini menekankan pada pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan materi-materi matematika kepada siswa. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kecocokan masalah kontekstual yang disajikan dengan: (1) materi-materi matematika yang diajarkan dan (2) konsep, prinsip, rumus dan prosedur matematika yang akan ditemukan kembali oleh siswa dalam pembelajaran.
3. Mengembangkan sendiri model-model (self developed models) 
Prinsip ini berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan matematika informal dengan pengetahuan matematika formal. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, siswa diberi kebebasan untuk membangun sendiri model matematika terkait dengan masalah kontekstual yang dipecahkan. Sebagai konsekuensi dari kebebasan itu, sangat dimungkinkan muncul berbagai model yang dibangun siswa. Berbagai model tersebut pada mulanya mungkin masih mirip atau jelas terkait dengan masalah kontekstualnya. Ini merupakan langkah lanjutan dari re-invention dan sekaligus menunjukkan bahwa sifat bottom up mulai terjadi. Model-model tersebut diharapkan akan berubah dan mengarah kepada bentuk yang lebih baik menuju ke arah pengetahuan matematika formal.
Dalam PMR diharapkan terjadi urutan belajar yang bottom up, dengan urutan: “dari situasi nyata” – “model dari situasi itu”-“model ke arah formal” “pengetahuan formal” (Soedjadi, 2001 b: 4). Treffers dan Goffree (Ermayana, 2003 : 8) terdapat dua tipe matematisasi yang dikenal dalam Realistic Mathematic Education (RME) yaitu:
1. Matematika horizontal 
Proses matematika horizontal pada tahapan menengah persoalan sehari-hari menjadi persoalan matematika sehingga dapat diselesaikan atau situasi nyata diubah ke dalam simbol-simbol dan model-model matematika. 2. Matematika vertical
Proses matematika pada tahap penggunaan simbol, lambang kaidah-kaidah matematika yang berlaku secara umum.
3) Karakteristik pembelajaran matematika realistik
Sebagai operasionalisasi ketiga prinsip utama PMR di atas, menurut Freudenthal (dalam Gravemeijer, 1994:114-115), PMR memiliki lima karakteristik, diuraikan sebagai berikut:

  1. Menggunakan masalah kontekstual (the use of context). Pembelajaran diawali dengan menggunakan masalah kontekstual sehingga memungkinkan siswa menggunakan pengalaman sebelumnya dan pengetahuan awal yang dimilikinya secara langsung, tidak dimulai dari sistem formal. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai materi awal dalam pembelajaran harus sesuai dengan realitas atau lingkungan yang dihadapi siswa dalam kesehariannya yang sudah dipahami atau mudah dibayangkan. Menurut Treffers dan Goffree (dalam Suherman, dkk., 2003:149-150), masalah kontekstual dalam PMR memiliki empat fungsi, yaitu: (1) untuk membantu siswa dalam pembentukan konsep matematika, (2) untuk membentuk model dasar matematika dalam mendukung pola pikir siswa bermatematika, (3) untuk memanfaatkan realitas sebagai sumber dan domain aplikasi matematika dan (4) untuk melatih kemampuan siswa, khususnya dalam menerapkan matematika pada situasi nyata (realitas). Realitas yang dimaksud di sini sama dengan kontekstual.
  2. Menggunakan instrumen vertikal seperti model, skema, diagram dan simbol-simbol (use models, bridging by vertical instrument). Istilah model berkaitan dengan situasi dan model matematika yang dibangun sendiri oleh siswa (self developed models), yang merupakan jembatan bagi siswa untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau dari situasi informal ke formal. Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah kontekstual yang merupakan keterkaitan antara model situasi dunia nyata yang relevan dengan lingkungan siswa ke dalam model matematika. Sehingga dari proses matematisasi horizontal dapat menuju ke matematisasi vertikal. 
  3. Menggunakan kontribusi siswa (student contribution). Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan berbagai strategi informal yang dapat mengarahkan pada pengkontruksian berbagai prosedur untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, kontribusi yang besar dalam proses pembelajaran diharapkan datang dari siswa, bukan dari guru. Artinya semua pikiran atau pendapat siswa sangat diperhatikan dan dihargai.
  4. Proses pembelajaran yang interaktif (interactivity). Mengoptimalkan proses belajar mengajar melalui interaksi antar siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan sarana dan prasarana merupakan hal penting dalam PMR. Bentuk-bentuk interaksi seperti: negosiasi, penjelasan, pembenaran, persetujuan, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk pengetahuan matematika formal dari bentuk-bentuk pengetahuan matematika informal yang ditemukan sendiri oleh siswa. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkomunikasikan ide-ide mereka melalui proses belajar yang interaktif.
  5. Terkait dengan topik lainnya (intertwining). Berbagai struktur dan konsep dalam matematika saling berkaitan, sehingga keterkaitan atau pengintegrasian antar topik atau materi pelajaran perlu dieksplorasi untuk mendukung agar pembelajaran lebih bermakna. Oleh karena itu dalam PMR pengintegrasian unit-unit pelajaran matematika merupakan hal yang esensial (penting). Dengan pengintegrasian itu akan memudahkan siswa untuk memecahkan masalah. Di samping itu dengan pengintegrasian dalam pembelajaran, waktu pembelajaran menjadi lebih efisien. Hal ini dapat terlihat melalui masalah kontekstual yang diberikan.
4) Langkah-langkah pembelajaran matematika realistik Fauzi (2002:) mengemukakan langkah-langkah di dalam proses pembelajaran matematika dengan pendekatan PMR, sebagai berikut:

  1. Langkah pertama: memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.
  2. Langkah kedua: menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.
  3. Langkah ketiga: menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri.
  4. Langkah keempat: membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran.
  5. Langkah kelima: menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.
Sintaks Implementasi Matematika Realististik

Aktivitas Guru

  • Guru memberikan siswa masalah kontekstual.
  • Guru merespon secara positif jawaban siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan strategi siswa yang paling efektif.
  • Guru mengarahkan siswa pada beberapa masalah kontekstual dan selanjutnya meminta siswa mengerjakan masalah dengan menggunakan pengalaman mereka.
  • Guru mengelilingi siswa sambil memberikan bantuan seperlunya
  • Guru mengenalkan istilah konsep.
  • Guru memberikan tugas dirumah yaitu mengerjakan soal atau membuat masalah cerita beserta jawabannya yang sesuai dengan matematika formal.
Aktivitas Siswa

  • Siswa secara sendiri-sendiri atau kelompok menyelesaikan masalah tersebut.
  • Beberapa siswa mengerjakan di papan tulis. Melalui diskusi kelas, jawaban siswa dikonfrontasikan.
  • Siswa merumuskan bentuk matematika formal.
  • Siswa mengerjakan tugas rumah dan menyerah-kannya kepada guru.
  • Siswa secara sendiri atau kelompok kecil mengerja-kan masalah dengan strategi-strategi informal.
5)Materi Pembelajaran Matematika

  • Bangun Segiempat
F. Kerangka Berfikir
Pelajaran matematika adalah pelajaran yang relatif agak sulit dibandingkan dengan pelajaran yang lain karena pelajaran matematika adalah belajar dalam bentuk melihat, memikirkan, dan memahami ide-ide atau simbol-simbol yang ada dalam struktur matematika dan mengerti serta mampu memanipulasi lambang-lambang yang kompleks menjadi sederhana, sehingga banyak siswa mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak ini dapat menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Dalam pembelajaran matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif adalah model pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Model pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai titik awal pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk menemukan kembali dan memahami konsep-konsep matematika berdasarkan pada masalah realistik yang diberikan oleh guru. Dengan pembelajaran yang efektif, diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pembelajaran yang efektif sangat menentukan efektifitas dari pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).

G. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) efektif dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIIG SMP Nasional Makassar”.

H. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan melibatkan satu kelompok. Kelompok eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas yang diajar dengan menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).

I. Tempat dan Waktu
Ujicoba dilaksanakan di SMP Nasional Makassar, dengan responden penelitian adalah siswa kelas VIIG yang terdiri dari 49 siswa dan kelas VB yang terdiri dari 31 siswa. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2009-2010, tepatnya tanggal 11 Januari sampai 5 Februari 2010.

J. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Nasional Makasar pada tahun ajaran 2012/2013. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIIG SMP Nasional Makassar. Pada kelas ini akan diberikan perlakuan berupa diterapkannya pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).

K. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap Tahun Ajaran 2012/2013, dengan tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis data.
1. Tahap persiapan
Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah: a. Mempersiapkan perangkat pembelajaran matematika yang berhubungan dengan materi pelajaran. b. Mempersiapkan instrument penelitian. c. Mempersiapkan observer.
2. Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah disusun dalam rencana program pembelajaran.
3. Tahap analisis data
Kegiatan pada tahap ini adalah menganalisis data yang diperoleh dari tahap pelaksanaan. Data-data yang dianalisis adalah data-data yang berupa data kuantitatif maupun data kualitatif.

L. Instrument Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar matematika, lembar pengamatan aktivitas siswa, lembar aktivitas guru selama pembelajaran, dan respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran melalui angket.
1. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar (THB) digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan siswa terhadap materi setelah pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian ini tes hasil belajar dilaksanakan dalam satu waktu yaitu post-test. Post-test digunakan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa setelah diberikan perlakuan. Pemberian skor pada hasil tes ini menggunakan skala berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sanimbar, 2011) yaitu: a. Kemampuan 85 % - 100 % atau skor 85 – 100 dikategorikan sangat tinggi. b. Kemampuan 65 % - 84 % atau skor 65 – 84 dikategorikan tinggi. c. Kemampuan 55 % - 64 % atau skor 55 – 64 dikategorikan sedang. d. Kemampuan 35 % - 54 % atau skor 35 – 54 dikategorikan rendah. e. Kemampuan 0 % - 34 % atau skor 0 – 34 dikategorikan sangat rendah.
2. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan efektifitas suatu pembelajaran.
a. Tugas dan Reaksi Tugas

  1. Keterampilan melaksanakan tugas belajar di rumah.
  2. Keterampilan membuat rangkuman dari tugas yang diberikan.
  3. Keterampilan membuat pertanyaan berkualitas yang dimunculkan (jumlah pertanyaan).
  4. Keterampilan membuat daftar pertanyaan yang berkualitas.
b. Partisipasi Mengawali Pembelajaran.

  1. Keterampilan mengikuti jalannya pembelajaran (proses kesiapan).
  2. Keterampilan mengungkapkan pendapat (bertanya/menjawab pertanyaan).
  3. Keterampilan memecahkan masalah yang ada.
c. Partisipasi dalam Proses Pembelajaran.

  1. Keterampilan bekerja sama dengan teman.
  2. Keterampilan beradaptasi dengan teman.
  3. Keterampilan dalam menjawab pertanyaan (kesiapan).
  4. Keterampilan mengatasi masalah.
  5. Keterampilan dalam memberi kesempatan teman kelompok untuk aktif.
  6. Keterampilan berperan sebagai pemimpin dalam kelompok.
d. Menutup Jalannya Pembelajaran.

  1. Keterampilan merangkum hasil pembelajaran.
  2. Keterampilan menutup kegiatan.
3. Lembar Pengamatan Aktivitas Guru Selama Pembelajaran
Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas guru selama proses pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Informasi yang diperoleh melalui instrumen ini kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan efektifitas suatu pembelajaran. Dalam penelitian ini aspek yang diamati adalah:
  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran
  2. Memotivasi siswa
  3. Mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi prasyarat
  4. Mempresentasikan materi pokok yang mendukung tugas belajar kelompok dengan cara demonstrasi
  5. Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar
  6. Membimbing kelompok dalam bekerja dan belajar.
4. Respon Siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran 
Data respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) diperoleh melalui angket. Angket tersebut diisi oleh siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dan selanjutnya data ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan efektifitas suatu pembelajaran. Respon siswa yang ditanyakan meliputi pendapat maupun komentar siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). 

M. Teknik Analisis Data 
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 
Analisis terhadap keefektifan pembelajaran matematika dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME), didukung oleh hasil analisis data dari 4 komponen keefektifan, yaitu: (1) hasil belajar siswa atau ketuntasan klasikal, (2) aktivitas siswa, (3) respon siswa, dan (4) aktivitas guru. Kegiatan analisis data terhadap keempat komponen itu adalah sebagai berikut:
Analisis data hasil belajar siswa
Data tentang hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif yaitu skor rata-rata dan standar deviasi, median, frekuensi, persentase, nilai terendah dan nilai tertinggi yang dicapai oleh siswa.
  • Analisis Data Aktivitas Siswa 
Data hasil pengamatan aktivitas siswa meliputi menghitung frekuensi rata-rata aspek tiap pertemuan dilakukan dengan cara menjumlahkan frekuensi aspek yang dimaksud dibagi banyak siswa yang diamati. Selanjutnya menghitung persentase aspek tiap pertemuan dilakukan dengan cara membagi frekuensi rata-rata aspek tiap pertemuan dengan jumlah frekuensi semua aspek pada pertemuan tersebut dan dikalikan 100%. Indikator keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini ditunjukkan dengan sekurang-kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. 
  • Analisis Data Aktivitas Guru 
Data hasil pengamatan aktivitas guru meliputi menghitung frekuensi rata-rata aspek tiap pertemuan dilakukan dengan cara menjumlahkan frekuensi aspek yang dimaksud dibagi banyak aspek yang diamati. Selanjutnya menghitung persentase aspek tiap pertemuan dilakukan dengan cara membagi frekuensi rata-rata aspek tiap pertemuan dengan jumlah frekuensi semua aspek pada pertemuan tersebut dan dikalikan 100%. Indikator keberhasilan aktivitas guru dalam penelitian ini ditunjukkan dengan sekurang-kurangnya 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
  • Analisis Respons Siswa 
Kegiatan yang dilakukan untuk menganalisis data respons siswa adalah sebagai berikut:
  1. Menghitung banyak siswa yang memberi respons positif sesuai dengan aspek yang ditanyakan
  2. Menghitung persentase dari (1)
  3. Menentukan kategori untuk respon positif siswa dengan mencocokkan hasil persentase dengan kriteria yang ditetapkan.
  4. Jika hasil analisis menunjukkan bahwa respon siswa belum positif, maka dilakukan revisi terhadap perangkat yang tengah dikembangkan. Kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah 80% siswa yang memberi respon yang positif. 

DAFTAR PUSTAKA 
  • Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Emzir. 2012. Metodologi Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif). jakarta: Rajawalui Pers. 
  • Majid, Dalmays. 2007. Peningkatan Daya Serap Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika Melalui Metode Pendekatan Realistik Kelas VIIA SMP Negeri Ma’rang Kabupaten Pangkep. Makassar: FMIPA UNM. 
  • Masykur, Moch., Halim, Abdul. 2007. Mathematical Intelligence. Jogjakarta: Ar-ruzz Media. Mulyatingsih, Endang. 2011. Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
  • Salmah, Ummy. 2010. Efektivitas Pendekatan Pembelajaran Realistik Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Makassar: Skripsi FMIPA UNM.
  • Saputra, Khaeriadi. 20010. Keefektifan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Siswa Kelas VII Smp Negeri 18 Makassar. Makassar: Skripsi FMIPA UNM.
  • Suherman, Erman. Dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA
  • Suyono, Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Tiro, Muhammad Arif. 2008. Dasar-Dasar Statistika, Edisi Ketiga. Makassar: Andira Publisher.
  • Tirtarahardja, Umar., La Sulo, S, L. 2010. Pengantar pendidikan. Jakarta: Penerbit FIP UNM Makassar.
  • Wahid Rauf, Abdul. 2011. Meningkatkab Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) Pada Siswa Kelas VII2 SMP Negeri 2 Polut Kabupaten Takalar. Makassar: Skripsi FKIP Unismuh.
  • Wijaya, Ariyadi. 2012. Pendidikan Matematika Realistik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • http://ironerozanie.wordpress.com/2010/03/03/realistic-mathematic-education-rme-atau-pembelajaran-matematika-realistik-pmr/. Diakses 18 Desember 2012.
  • http://www.masbied.com/2010/03/20/implementasi-pembelajaran-matematika-realistik-setting-kooperatif-materi-aritmetika-sosial-pada-siswa-kelas-vii-smp/#more-2405. Diakses 18 Desember 2012.
  • http://www.masbied.com/2010/03/20/pendekatan-pembelajaran-matematika-realistik/#more-2427. Diakses 18 Desember 2012.

Selasa, 17 Mei 2011

Bahaya Gonta - Ganti Pacar

Berganti-ganti pacar biasanya dilakukan dengan alasan untuk mencari yang terbaik. Tetapi jika Anda merasa tidak bisa hidup tanpa pasangan sehingga setelah putus langsung menjalin hubungan kembali dan itu terjadi terus-menerus, bisa menjadi berbahaya. Setiap orang tentu ingin menemukan pasangan yang terbaik untuk masa depan. Tetapi, bukan dengan menjadi "serial dater". Menjalin hubungan hanya karena merasa tidak tahan dengan status lajang, justru bisa membawa kekecewaan lebih dalam. Ketahui bahaya ganti-ganti pacar, yang dilansir dari associatedcontent.com, agar Anda bisa menghindarinya.

Kekecewaan berulang
Seorang yang sering gonta-ganti pacar cenderung menghabiskan sebagian besar hidup mereka dalam kekecewaan. Itu karena mereka mengandalkan orang lain untuk mendapat kebahagiaan. Mungkin terdengar klise, tetapi sumber kebahagiaan berasal dari diri sendiri. Melihat pasangan sebagai sumber kebahagiaan hanya akan menimbulkan rasa sakit karena apa yang mereka lakukan tak akan pernah terasa cukup.

Ketidakmandirian
Seorang "serial dater" segera mencari pacar baru setelah putus bisa jadi karena ia selalu mengandalkan orang lain dalam banyak hal. Seperti untuk menjemputnya, menemaninya berbelanja dan banyak hal ini. Hal ini justru membuat dirinya makin terjebak dalam ketidakmandirian.

Menghabiskan waktu
Menjalin hubungan untuk menghindari kesendirian mungkin tampak seperti solusi yang pas. Tetapi bagi "serial dater" justru banyak waktu yang terbuang karena menjalin hubungan yang buntu. Padahal bisa saja ada kemungkinan untuk mendapatkan pasangan yang pas. Namun, karena mereka sedang menjalin hubungan yang tidak jelas, kesempatan pun pergi begitu saja.

Selasa, 26 April 2011

Puisiku

SAYANG RINDU TERPENDAM

Ku terdiam dalam kesendirianku
Ku termenung dalam lamunanku
Pikiranku berjalan tak tentu arah
Apabila harus mengingat dirimu
Yang tak mampu ku gapai

Segenap sayang ingin kucurahkan padamu
Segenap rindu ingin ku sampaikan padamu
Namun,,,
Apa yang haru aku lakukan
Agar sayang dan rinduku bisa ku sampaikan padamu
Jiwamu tak lagi bersamaku
Bahkan ragamu tak mampu ku rasa dengan inderaku
Yang mampu kulihat hanyalah batu yang bertuliskan namamu

Ku terdiam sejenak,, berpikir…
Lalu ku berjalan di jalan kosong yang penuh kehampaan
Ku tak menemukan apa-apa
Yang aku temukan hanyalah rasa sakit dan kecewa

Aku tak tahu harus bagaimana lagi
Mungkin,, hanya secarik kertas ini
Menjadi saksi kesedihan yang aku alami
Meskipun hanya benda yang tak mampu bergerak
Yang tak mampu menghibur lara hati
Tapi,, mampu menenangkan dan mengurangi
Rasa penat dalam hidupku….


AKU,, KAMU,, DAN DIA
Ku berbaring di atas rasa bimbang dan galau
Pikiranku melayang diantara sudut-sudut ruang
Rasa hati ingin berteriak
Namun tak sanggup aku lakukan

Dirimu yang telah pergi
Kini datang kembali
Membawa sejuta rasa keindahan
Yang mampu membunuh rasa benci
Yang mampu memusnahkan rasa kecewa
Yang mampu menghilangkan rasa penyesalan

Ingin ku melangkah kembali ke belakang
Meraih genggamanmu yang pernah lepas
Menyatukan rasa yang pernah hilang
Agar masa lalu itu terulang lagi

Tapi,, aku tak mampu melakukan itu
Jari jemariku telah digenggam oleh yang lain
Aku tak mungkin melepasnya
Meninggalkannya demi masa lalu yang suram
Karena dia yang telah membangkitkan aku dari dunia yang begitu gelap

Meskipun rasa ini masih untukmu
Meskipun rasa ingin bersamamu begitu kuat
Namun,, aku tak ingin mengikuti ego
Aku tak ingin dibutakan oleh rasa masa lalu

Satu hal yang pasti
Aku sekarang bukan milikmu lagi
Aku telah menjadi miliknya yang melebihi dari dirimu
Dan kebahagiaan yang pernah kita lalui
Akan terulang dimasa ini dengan dia
Dan bahkan melebihi kebahagiaan yang pernah kita hadapi bersama


J A T U H
Air mata jatuh tak terasa
Rasa sakit yang membelenggu di hati
Rasa penat yang menyelimuti pikiran
Rasa kecewa yang begitu mendalam

Aku telah jatuh
Jatuh kedalam lubang yang sangat dalam
Tak ada lagi rasa ingin bangkit
Tak ada lagi rasa ingin hidup

Aku ingin berusaha keluar dari lubang itu
Namun,, hati dan pikiranku tak menyatu lagi
Putus asa yang begitu sangat melekat pada diriku
Membuatku tak berdaya

AKU LEMAH


KAMU ADALAH KAMU

Kenapa harus seperti ini
Kenapa harus berubah
Kenapa harus sama
Kenapa... Kenapa...

Apakah kamu tahu
Aku ingin kamu sepenuhnya
Aku ingin kamu tetap
Aku ingin kamu berbeda

Kamu bukanlah seorang raja yang bermahkotakan emas
Kamu bukanlah seorang pangeran yang gagah perkasa
Kamu bukanlah seorang pahlawan yang menolong orang
Tapi,,
Kamu hanyalah manusia biasa
Yang tak memiliki apapun

Mesipun mereka memandang kamu biasa
Bagiku,, kamu pahlawan hatiku
Yang mampu memberikan rasa kedamaian di hati
Yang mampu menghapus air mata ini
Yang mampu memusnahkan segala kesedihan di dalam hidupku

Selamanya ku akan bersamamu
Bila kamu tetap menjadi dirimu
Kamu adalah kamu
Dan kamu bukan dia

Minggu, 24 April 2011

Khasiat Dan Manfaat Buah-Buahan Alami Bagi Tubuh Manusia

Buah adalah salah satu jenis makanan yang memiliki kandungan gizi, vitamin dan mineral yang pada umumnya sangat baik untuk dikonsumsi setiap hari. Dibandingkan dengan suplemen obat-obatan kimia yang dijual di toko-toko, buah jauh lebih aman tanpa efek samping yang berbahaya serta dari sisi harga umumnya jauh lebih murah dibanding suplemen yang memiliki fungsi yang sama.

Di bawah ini kita dapat melihat kandungan, khasiat dan manfaat sehat dari beberapa jenis buah yang ada di bumi :

1. BUAH TOMAT (TOMATO)
- tomat mengandung vitamin A, B1 dan C.
- tomat dapat membantu membersihkan hati hati dan darah kita.
- tomat dapat mencegah beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. gusi berdarah.
b. rabun senja / kotok ayam.
c. penggumpalan darah.
d. usus buntu.
e. kanker prostat dan kanker payudara.

2. BUAH PEPAYA (PAPAYA)
- pepaya mengandung vitamin C dan provitamin A.
- pepaya dapat membantu memecah serat makanan dalam sistem pencernaan.
- pepaya dapat mebuat lancar saluran pencernaan makanan.
- pepaya dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menyembuhkan luka.
b. menghilangkan infeksi.
c. menghilangkan alergi

3. BUAH PISANG (BANANA)
- pisang mengandung vitamin A, B1, B2 dan C.
- pisang dapat membantu mengurangi asam lambung.
- pisang bisa membantu menjaga keseimbangan air dalam tubuh.
- pisang dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. gangguan pada lambung.
b. penyakit jantung dan stroke
c. stress
d. menurunkan kadar koleterol dalam darah.

4. BUAH MANGGA (MANGO)
- mangga mengandung vitamin A, E dan C.
- mangga dapat bertindak sebagai disinfektan.
- mangga dapat membersihkan darah.
- mangga dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. bau badan / bb / bau tubuh yang tidak enak.
b. menurunkan panas tubuh saat demam.

5. BUAH STRAWBERRY (STRAWBERRY)
- stoberi mengandung provitamin A, vitamin B1, B dan C.
- stobery mengandung antioksidan untuk melawan zat radikal bebas.
- strawbery memiliki kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. mengobati gangguan kesehatan pada kandung kemih.
b. menjadi anti virus
c. menjadi anti kanker

6. BUAH APEL (APPLE)
- apel mengandung vitamin A, B dan C.
- aple dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
- apel mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menjadi zat anti kanker.
b. mengurangi nafsu makan yang terlalu besar.

7. BUAH JERUK (ORANGE)
- jeruk mengandung vitamin A, B1, B2 dan C.
- jeruk mengandung antikanker bagi tubuh.
- jeruk dapat mencegah dan mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. mengobati sariawan.
b. menurunkan resiko terkena kardiovaskuler, kanker, dan katarak.

8. BUAH PEAR / PIR (PEAR)
- pear mengandung vitamin C dan provitamin A.
- pear mengandung anti oksidan yang baik untuk menjaga kesehatan.
- pear dapat mencegah beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menurunkan demam / panas tubuh.
b. mengencerkan dan menhilangkan dahak pada batuk berdahak.

9. BUAH JAMBU BIJI MERAH / JAMBU MERAH (GUAVA)
- jambu merah mengandung vitamin C yang sangat banyak.
- jambu merah mengandung zat antioxidan dan antikanker.
- jambu merah mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menurunkan kadar kolesterol darah
b. mengobati infeksi.
c. menjaga mengobati sariawan.
d. memperlancar peredaran darah.
e. melancarkan saluran pencernaan.
f. mencegah konstipasi.

10. BUAH SEMANGKA (WATERMELON)
- semangka mengandung vitamin C dan provitamin A.
- semangka dapat menjadi antialergi.
- semangka mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
seperti :
a. menurunkan kadar kolesterol.
b. mencegah dan menahan serangan jantung.

11. BUAH MELON (HONEYDEW)
- melon mengandung vitamin C dan provitamin A.
- melon mengandung zat anti kanker dan anti oksidan.
- melon mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. mencegah darah menggumpal.
b. membersihkan kulit.
c. menlancarkan saluran pencernaan.
d. menurunkan kadar kolestrerol.

12. BUAH WORTEL (CARROT)
- wortel kaya akan vitamin A.
- wortel baik untuk menjaga kesehatan mata.
- wortel mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. meningkatkan kekebalan dan ketahanan tubuh jasmani.
b. menjaga hati tetap sehat.

13. BUAH BELIMBING (STAR FRUIT)
- belimbing mengandung vitamin C dan provitamin A.
- belimbing dapat membantu memperlancar pencernaan makanan.
- belimbing mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menurunkan tekanan darah.
b. menurunkan kadar / tingkat kolesterol dalam tubuh.

14. BUAH NANAS (PINEAPPLE)
- nanas mengandung vitamin B dan C.
- nanas dapat mencegah terkena serangan jantung dan stroke / struk.
- nenas dapat mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menyembuhkan luka.
b. menyembuhkan infeksi pada saluran pencernaan.

Untuk menjadi sehat alami tanpa bahan kimia makanlah berbagai buah secukupnya setiap hari demi kesehatan badan kita yang sangat berharga.

Jumat, 22 April 2011

Lama Duduk depan Komputer Timbulkan Banyak Penyakit

Di Amerika saat ini sedang tren meja kerja yang didesain sedemikian rupa sehingga penggunanya bisa melakukan pekerjaan sambil berdiri. Fenomena tersebut berangkat dari publikasi bukti-bukti ilmiah mengenai bahaya kesehatan duduk seharian di kantor.

Berikut adalah beberapa hasil riset mengenai dampak duduk terlalu lama di tempat kerja.

1. Tahun 2010, studi yang dimuat dalam British Journal of Sport Medicine menemukan mereka yang duduk untuk periode yang lama berisiko terkena penyakit lebih tinggi dibanding orang yang secara berkala melakukan gerakan otot.

2. Peneliti dari American Cancer Society menemukan bahkan orang yang berolahraga setiap hari, tidak akan menemukan manfaat apa pun bagi tubuhnya jika ia menghabiskan sebagian besar waktunya di belakang meja.

3. Peneliti di Universitas Missouri menyatakan duduk terlalu lama akan memutus sirkulasi enzim penyerap lemak yang disebut lipase.

4. Studi yang dimuat dalam American Journal of Epidemiology menunjukkan duduk lama (lebih dari 6 jam tiap hari) bisa meningkatkan risiko kematian hingga 18 persen akibat penyakit diabetes, penyakit jantung, dan kegemukan, dibanding orang yang menghabiskan 3 jam tiap hari untuk duduk.

5. Peneliti dari Pennington Biomedical Research Center, Louisiana menganalisa gaya hidup lebih dari 17.000 pria dan wanita selama 13 tahun dan menemukan orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk duduk, 54 persennya meninggal akibat serangan jantung.

Sederet bukti ilmiah tersebut ternyata membuat para petinggi perusahaan di sana untuk beralih pada meja kerja berdiri. Beberapa bahkan mulai melirik meja treadmill sehingga kita bisa berjalan pelan sambil bekerja.

Sayangnya, para ahli mengingatkan bahwa berdiri seharian sama berbahayanya dengan duduk terlalu lama. Alan Hedge, direktur Human Factors and Ergonomics mengatakan, berdiri terlalu lama tidak sehat karena lebih membuat lelah dan meningkatkan risiko carotid aterosklersosis (ninefold) karena tambahan beban pada sistem sirkulasi dan meningkatkan risiko varises.

Ia juga mengatakan, kemampuan motor kita akan berkurang jika seseorang berdiri terlalu lama. Menggunakan komputer sambil berdiri juga bisa mengubah postur dan meningkatkan risiko sindrom carpal tunnel.

Lantas bagaimana solusinya? Hedge menyarankan agar aktivitas duduk di kantor hendaknya diselingi dengan aktivitas fisik setiap 20 menit sekali.

"Lakukan variasi kegiatan fisik di kantor, seperti berjalan ke dapur kantor untuk mengambil air, naik tangga, jalan-jalan di sekitar lantai, atau mencari tempat parkir yang sedikit jauh dari kantor. Selain itu pastikan meja dan kursi yang dipakai ergonomis," sarannya.

Tips Melupakan Sang Mantan

Putus cinta dan tidak bisa melupakan sang mantan dengan cepat. itulah biasa yang dialami oleh kebanyakan orang. Biasanya butuh waktu lama untuk menyembuhkan sakit hati yang mungkin masih melekat di hati.

Segala usaha dilakukan untuk melupakan sang mantan, tapi ingatan tentangnya tidak bisa hilang juga. Bisa jadi Anda masih benar-benar menyayanginya. Apa saja tanda bahwa Anda masih mengharapkan si dia, berikut tanda-tanda dan cara mengatasinya:

Selalu teringat dengan sang mantan.
Apapun yang Anda lakukan, bayangan sang mantan seolah terus membuntuti. Setiap kali mendengar lagu kenangan Anda dan dia, bisa membuat air mata menetes. Apapun kegiatan yang pernah Anda lakukan bersama pasti mengingatkan Anda pada dia.

Cara mengatasinya, ada baiknya menceritakan semua perasaan Anda kepada Ibu. Jadikanlah Ibu sebagai teman baru Anda. Selain itu cobalah untuk melupakan daftar kegiatan yang pernah dilakukan dengan sang mantan.

Selalu membuat status tentang dia di berbagai forum publik.
Anda mengatakan bahwa dia adalah "sampah" dalam status di twitter dan facebook. Ini membuktikan bahwa Anda masih menyukainya. Hindari facebook atau jejaring sosial lainnya, agar Anda tidak membuat status yang mudah diketahui banyak orang.

Sering berharap bertemu dengannya
Anda berdandan dengan harapan Anda akan bertemu dengannya. Ketika melihat sang mantan, akan membuat hidup Anda tampak benar-benar mengagumkan. Jika Anda melakukan hal ini, jelas bahwa kehadirannya masih sangat Anda nantikan.

Merasa panas setiap kali mendengar namanya
Selalu merasa kaget dan terkejut jika mendengar nama yang sama dengan sang mantan. Coba lakukan obrolan dengan teman baru. Pilih topik yang menarik dan buat suasana lebih menyenangkan. Anda tidak akan tahu apa yang akan terjadi.

Membandingkan sang mantan dengan orang lain
Bahkan ketika Anda berpikir telah siap untuk mulai berkencan lagi dengan orang baru, tanpa sadar Anda selalu membandingkan orang baru tersebut dengan sang mantan. Hindari perbuatan ini, karena bisa membuat calon pacar baru Anda mundur teratur. Lebih baik, usahakan untuk tidak membicarakannya agar Anda bisa lebih menghargai pasangan baru Anda.

Tidak bisa melepaskan kenangan Anda dengan dia
Banyak pemberian darinya yang mungkin membuat Anda tidak bisa melupakannya. Semua barang yang diberikannya, pasti bukan sekedar hadiah, namun juga kenang-kenangan yang membuat Anda selalu teringat padanya. Bungkus dan simpan atau kubur di dalam tanah supaya Anda tidak melihat kenangan-kenangan itu lagi. Buang semua kenangan berbentuk hadiah darinya. Ini bisa membantu Anda melupakannya.

Lutut terasa lemas jika bertemu dengan mantan
Terkadang ada wanita yang merasa lemah saat melihat mantannya ada di depan mata. Jika melihat atau bertemu dengannya, pasti Anda akan merasa malu, bahkan terkadang efeknya membuat Anda mual. Jika tidak ingin merasa malu di depannya, coba menghindar secara perlahan, sebelum dia melihat Anda lebih dulu.

Sabtu, 25 Desember 2010

Teori Belajar Gestalt

BAB I
PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN
Max Wertheimer (1880-1943) seorang yang dipandang sebagai pendiri dari Psikologi Gestalt, tetapi ia bekerjasama dengan dua temannya, yaitu Kurt Koffka (1886- 1941) dan Wolfgang Kohler (1887-1967). Ketiga tokoh ini mempunyai pemikiran yang sama atau searah. Kata Gestalt sesungguhnya sudah ada sebelum Wertheimer dan kawan-kawan menggunakannya sebagai nama. Palland (dari Belanda) mengatakan bahwa pengertian Gestalt sudah pernah dikemukakan pada jaman Yunani Kuno. Menurut Palland : Plato dalam uraiannya mengenai ilmu pasti (matematika), telah menunjukkan bahwa dalam kesatuan bentuk terdapat bagian-bagian atau sifat-sifat yang tidak terdapat (tidak dapat terlihat) pada bagian-bagiannya.
Watson sebagai tokoh aliran behaviorisme menentang Wundt (strukturalisme), sementara itu di Jerman juga terjadi arus yang menentang apa yang dikemukakan oleh Wundt dan Tithecener atau kaum strukturalis pada umumnya, yaitu aliran Gestalt yang dipelopori oleh Max Wertheimer dengan artikelnya “On Apparent Movement”, yang terbit pada tahun 1912. Aliran ini juga menentang aliran behaviorisme yang mempunyai pandangan yang elementaristik.
Menurut Gestalt, baik strukturalisme maupun behaviorisme kedua-duanya melakukan kesalahan, yaitu karena mengadakan atau menggunakan reductionistic approach, keduanya mencoba membagi pokok bahasan menjadi elemen-elemen. Strukturalisme mereduksi perilaku dan berpikir sebagai elemen dasar, sedangkan behaviorisme mereduksi perilaku menjadi kebiasaan (habits), respons berkondisi atau secara umum dapat dikemukakan hubungan stimulus-respon. Aliran Gestalt tidak setuju mengenai reduksi ini.
Pandangan pokok psikologi Gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsi itu merupakan suatu kebulatan, suatu unity atau suatu Gestalt. Psikologi Gestalt semula memang timbul berkaitan dengan masalah persepsi, yaitu pengalaman Wertheimer di stasiun kereta api yang disebutnya sebagai phi phenomena. Dalam pengalaman tersebut sinar yang tidak bergerak dipersepsi sebagai sinar yang bergerak (Garret, 1958). Walaupun secara objektif sinar itu tidak bergerak. Dengan demikian maka dalam persepsi itu ada peran aktif dalam diri perseptor. Ini berarti bahwa dalam individu mempersepsi sesuatu tidak hanya bergantung pada stimulus objektif saja, tetapi ada aktivitas individu untuk menentukan hasil persepsinya. Apa yang semula terbatas pada persepsi, kemudian berkembang dan berpengaruh pada aspek-aspek lain, antara lain dalam psikologi belajar.
Bagi para ahli pengikut Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder, bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya, keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Bila kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan, sebagai Gestalt; baru kemudian menuyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu seperti bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja hukum-hukum teori belajar Gestalt ?
2. Bagaimanakah kajian teori yang dikemukakan oleh beberapa tokoh tentang teori belajar Gestalt ?
3. Bagaimanakah aplikasi dan implikasi Gestalt dalam pembelajaran ?


C. TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :
1. Untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Teori Belajar Matematika
2. Untuk mengetahui hukum-hukum belajar Gestalt.
3. Untuk mengetahui kajian teori yang dikemukakan oleh beberapa tokoh tentang teori belajar Gestalt.
4. Untuk mengetahui aplikasi dan implikasi Gestalt dalam pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PSIKOLOGI GESTALT

Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai phenomena (gejala). Phenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt. Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat phenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu phenomena terdapat dua unsur yaitu obyek dan arti. Obyek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada obyek itu.

B. TOKOH –TOKOH GESTALT
1. Max Wertheimer (1880-1943)

Max Wertheimer adalah tokoh tertua dari tiga serangkai pendiri aliran psikologi Gestalt. Wertheimer dilahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880. Ia mendapat gelar Ph.D nya di bawah bimbingan Oswald Kulpe. Antara tahun 1910-1916, ia bekerja di Universitas Frankfurt di mana ia bertemu dengan rekan-rekan pendiri aliran Gestalt yaitu, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka.
Bersama-sama dengan Wolfgang Koehler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1887-1941) melakukan eksperimen yang akhirnya menelurkan ide Gestalt. Tahun 1910 ia mengajar di Univeristy of Frankfurt bersama-sama dengan Koehler dan Koffka yang saat itu sudah menjadi asisten di sana. Konsep pentingnya : Phi phenomenon, yaitu bergeraknya objek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi. Weirthmeir menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. Proses ini terjadi di otak dan sama sekali bukan proses fisik tetapi proses mental sehingga diambil kesimpulan ia menentang pendapat Wundt.
Wertheimer dianggap sebagai pendiri teori Gestalt setelah dia melakukan eksperimen dengan menggunakan alat yang bernama stroboskop, yaitu alat yang berbentuk kotak dan diberi suatu alat untuk dapat melihat ke dalam kotak itu. Di dalam kotak terdapat dua buah garis yang satu melintang dan yang satu tegak. Kedua gambar tersebut diperlihatkan secara bergantian, dimulai dari garis yang melintang kemudian garis yang tegak, dan diperlihatkan secara terus menerus. Kesan yang muncul adalah garis tersebut bergerak dari tegak ke melintang. Gerakan ini merupakan gerakan yang semu karena sesungguhnya garis tersebut tidak bergerak melainkan dimunculkan secara bergantian.
Pada tahun 1923, Wertheimer mengemukakan hukum-hukum Gestalt dalam bukunya yang berjudul “Investigation of Gestalt Theory”. Hukum-hukum itu antara lain :
a) Hukum Kedekatan (Law of Proximity)
b) Hukum Ketertutupan ( Law of Closure)
c) Hukum Kesamaan (Law of Equivalence)

2. Kurt Koffka (1886-1941)
Koffka lahir di Berlin tanggal 18 Maret 1886. Kariernya dalam psikologi dimulai sejak dia diberi gelar doktor oleh Universitas Berlin pada tahun 1908. Pada tahun 1910, ia bertemu dengan Wertheimer dan Kohler, bersama kedua orang ini Koffka mendirikan aliran psikologi Gestalt di Berlin. Sumbangan Koffka kepada psikologi adalah penyajian yang sistematis dan pengamalan dari prinsip-prinsip Gestalt dalam rangkaian gejala psikologi, mulai persepsi, belajar, mengingat, sampai kepada psikologi belajar dan psikologi sosial. Teori Koffka tentang belajar didasarkan pada anggapan bahwa belajar dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip psikologi Gestalt.
Teori Koffka tentang belajar antara lain:
a. Jejak ingatan (memory traces), adalah suatu pengalaman yang membekas di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip Gestalt dan akan muncul kembali kalau kita mempersepsikan sesuatu yang serupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.
b. Perjalanan waktu berpengaruh terhadap jejak ingatan. Perjalanan waktu itu tidak dapat melemahkan, melainkan menyebabkan terjadinya perubahan jejak, karena jejak tersebut cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat Gestalt yang lebih baik dalam ingatan.
c. Latihan yang terus menerus akan memperkuat jejak ingatan.

3. Wolfgang Kohler (1887-1967)
Kohler lahir di Reval, Estonia pada tanggal 21 Januari 1887. Kohler memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1908 di bawah bimbingan C. Stumpf di Berlin. Ia kemudian pergi ke Frankfurt. Saat bertugas sebagai asisten dari F. Schumman, ia bertemu dengan Wartheimer dan Koffka.
Kohler berkarier mulai tahun 1913-1920, ia bekerja sebagai Direktur stasiun “Anthrophoid” dari Akademi Ilmu-Ilmu Persia di Teneriffe, di mana pernah melakukan penyelidikannya terhadap inteligensi kera. Hasil kajiannya ditulis dalam buku betajuk The Mentality of Apes (1925). Eksperimennya adalah : seekor simpanse diletakkan di dalam sangkar. Pisang digantung di atas sangkar. Di dalam sangkar terdapat beberapa kotak berlainan jenis. Mula-mula hewan itu melompat-lompat untuk mendapatkan pisang itu tetapi tidak berhasil. Karena usaha-usaha itu tidak membawa hasil, simpanse itu berhenti sejenak, seolah-olah memikir cara untuk mendapatkan pisang itu. Tiba-tiba hewan itu dapat sesuatu ide dan kemudian menyusun kotak-kotak yang tersedia untuk dijadikan tangga dan memanjatnya untuk mencapai pisang itu.
Menurut Kohler apabila organisme dihadapkan pada suatu masalah atau problem, maka akan terjadi ketidakseimbangan kogntitif, dan ini akan berlangsung sampai masalah tersebut terpecahkan. Karena itu, menurut Gestalt apabila terdapat ketidakseimbangan kognitif, hal ini akan mendorong organisme menuju ke arah keseimbangan. Dalam eksperimennya Kohler sampai pada kesimpulan bahwa organism –dalam hal ini simpanse– dalam memperoleh pemecahan masalahnya diperoleh dengan pengertian atau dengan insight

4. Kurt Lewin (1890-1947)
Pandangan Gestalt diaplikasikan dalam field psychology oleh Kurt Lewin. Lewin lahir di Jerman, lulus Ph.D dari University of Berlin dalam bidang psikologi thn 1914. Ia banyak terlibat dengan pemikir Gestalt, yaitu Wertheimer dan Kohler dan mengambil konsep psychological field juga dari Gestalt. Pada saat Hitler berkuasa Lewin meninggalkan Jerman dan melanjutkan karirnya di Amerika Serikat. Ia menjadi professor di Cornell University dan menjadi Director of the Research Center for Group Dynamics di Massacusetts Institute of Technology (MIT) hingga akhir hayatnya di usia 56 tahun.
Mula-mula Lewin tertarik pada paham Gestalt, tetapi kemudian ia mengkritik teori Gestalt karena dianggapnya tidak adekuat. Lewin kurang setuju dengan pendekatan Aristotelian yang mementingkan struktur dan isi gejala kejiwaan. Ia lebih cenderung kearah pendekatan yang Galilean, yaitu yang mementingkan fungsi kejiwaan. Konsep utama Lewin adalah Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian yang memiliki batas-batas. Batas ini dapat dipahami sebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Dalam
lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), maka terjadi ketegangan (tension).
Salah suatu teori Lewin yang bersifat praktis adalah teori tentang konflik. Akibat adanya vector-vector yang saling bertentangan dan tarik menarik, maka seseorang dalam suatu lapangan psikologis tertentu dapat mengalami konflik (pertentangan batin) yang jika tidak segera diselesaikan dapat mengakibatkan frustasi dan ketidakseimbangan. Berdarkan kepada vector yang saling bertentangan itu. Lewin membagi konflik dalam 3 jenis :

a) Konflik mendekat-mendekat (Approach-Approach Conflict)
Konflik ini terjadi jika seseorang menghadapi dua obyek yang sama-sama bernilai positif.
b) Konflik menjauh-menjauh (Avoidance-Avoidance Conflict)
Konflik ini terjadi kalau seseorang berhadapan dengan dua obyek yang sama-sama mempunyai nilai negative tetapi ia tidak bisa menghindari kedua obyek sekaligus.
c) Konflik mendekat-menjauh (Approach-Avoidance Conflict)
Konflik ini terjadi jika ada satu obyek yang mempunyai nilai positif dan nilai negative sekaligus.

C. POKOK-POKOK TEORI BELAJAR GESTALT
Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.
Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.
Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian-bagiannya.
Keseluruhan ini memberikan beberapa prinsip belajar yang penting, antara lain :
1. Manusia bereaksi dengan lingkunganya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional,sosial dan sebagainya
2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi membei dorongan yang mengerakan seluruh organisme.
7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.
Belajar sangat menguntungkan untuk kegiatan memecahakan masalah. Hal ini nampaknya juga relevan dengan konsep teori belajar yang diawali dengan suatu pengamatan. Belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian bagaiman seseorang itu dapat memecahknan masalah mrnurut J. Dewey ada 5 upaya pemecahannya yakni:
1. Realisasi adanya masalah. Jadi harus memehami apa masalahnya dan juga harus dapat merumuskan
2. Mengajukan hipotesa, sebagai suatu jalan yang mungkin memberi arah pemecahan masalah.
3. Mengumpulkan data atau informasi, dengan bacaan atau sumber-sumber lain.
4. Menilai dan mencobakan usah pembuktian hipotesa dengan keterangan-keterangan yang diperoleh.
5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau membuat sesuatu dengan hasil pemecahan soal itu.
Teori medan ini mengibaratkan pengalaman manusia sebagai lagu atau melodi yang lebih daripada kumpulan not, demikian pula pengalaman manusia tidak dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang terisolasi dari lingkungannya. Dengan kata lain berbeda dengan teori asosiasi maka toeri medan ini melihat makna dari suatu fenomena yang relatif terhadap lingkungannya. Sesuatu dipersepsi sebagai pendek jika objek lain lebih panjang. Warna abu-abu akan terlihat lebih cerah pada bidang berlaatr belakang hitam pekat. Warna abu-abu akan terliaht biru pada latar berwarna kuning.

D. PRINSIP DASAR GESTALT
a. Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Setiap perceptual field memiliki organisasi, yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia, bukan skill yang dipelajari. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.
b. Prinsip-prinsip pengorganisasian:
Kedekatan (Principle of Proximity) : bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
Kesamaan (Principle of Similarity) : individu akan cenderung mempersepsikan stimulus yang sama sebagai suatu kesatuan. Kesamaan stimulus itu bisa berupa persamaan bentuk, warna, ukuran dan kecerahan.
Principle of Objective Set : Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya.
Kesinambungan (Principle of Continuity) : Menunjukkan bahwa kerja otak manusia secara alamiah melakukan proses untuk melengkapi atau melanjutkan informasi meskipun stimulus yang didapat tidak lengkap.
Ketertutupan (Principle of Closure/ Principle of Good Form) : Bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Orang akan cenderung melihat suatu obyek dengan bentukan yang sempurna dan sederhana agar mudah diingat.
Hubungan Bentuk dan Latar (Principle of Figure and Ground) : Yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan ground (latar belakang). Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia secara sengaja ataupun tidak, memilih dari serangkaian stimulus, mana yang dianggapnya sebagai figure dan mana yang dianggap sebagai ground.
Principle of Isomorphism : Menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas otak dengan kesadaran, atau menunjukkan adanya hubungan structural antara daerah-daerah otak yang terktivasi dengan isi alam sadarnya.

Faktor inilah yang menyebabkan kita sering bisa merasakan keteraturan dari pola-pola yang sebenarnya acak. Misalnya saat seseorang melihat awan, dia dengan mudah bisa menemukan bentuk muka seseorang. Hal ini disebut pragnan.
Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan. Cara yang kedua inilah yang paling besar pengaruhnya terhadap perilaku manusia.
Terbentuknya dan perubahan perilaku karena proses interaksi antara individu dengan lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar. Oleh sebab itu, perubahan perilaku dan proses belajar itu sangat erat kaitannya. Perubahan perilaku merupakan hasil dari proses belajar.

E. APLIKASI PRINSIP GESTALT
1. Belajar
Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a) Pengalaman tilikan (insight) : bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b) Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) : kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.
c) Perilaku bertujuan (purposive behavior) : bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d) Prinsip ruang hidup (life space) : bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
e) Transfer dalam Belajar : yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tatasusunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.

2. Insight
Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar, ditemukan oleh Kohler dalam eksperimen yang sistematis.
Timbulnya insight pada individu tergantung pada :
a) Kesanggupan
Kesanggupan berkaitan dengan kemampuan inteligensi individu.
b) Pengalaman
Dengan belajar, individu akan mendapatkan suatu pengalaman dan pengalaman itu akan menyebabkan munculnya insight.
c) Taraf kompleksitas dari suatu situasi
Semakin kompleks masalah akan semakin sulit diatasi
d) Latihan
Latihan yang banyak akan mempertinggi kemampuan insight dalam situasi yang bersamaan
e) Trial and Error
Apabila seseorang tidak dapat memecahkan suatu masalah, seseorang akan melakukan percobaan-percobaan hingga akhirnya menemukan insight untuk memecahkan masalah tersebut.

Menurut Hilgard (1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan insight :
1. Insight termasuk pada kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.
2. Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.
3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental
4. Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba
5. Belajar dengan insight itu dapat diulangi
6. Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru
3. Memory
Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Dengan berjalannya waktu, jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Secara sosial, fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor. Fenomena gossip seringkali berbeda dengan fakta yang ada. Fakta yang diterima sebagai suatu informasi oleh seseorang kemudian diteruskan kepada orang lain dengan dengan dilengkapi oleh informasi yang relevan walaupun belum menjadi fakta atau belum diketahui faktanya.

4. Implikasi Gestalt
a. Pendekatan fenomenologis : menjadi salah satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process, yang selama ini dihindari karena abstrak, namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Fenomenologi memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Heidegger adalah murid Edmund Husserl (1859-1938), pendiri fenomenologi modern. Husserl adalah murid Carl Stumpf, salah seorang tokoh psikologi eksperimental “baru” yang muncul di Jerman pada akhir pertengahan abad XIX. Kohler dan Koffka bersama Wertheimer yang mendirikan psikologi Gestalt adalah juga murid Stumpf, dan mereka menggunakan fenomenologi sebagai metode untuk menganalisis gejala psikologis. Fenomenologi adalah deskripsi tentang data yang berusaha memahami dan bukan menerangkan gejala-gejala. Fenomenologi kadang-kadang dipandang sebagai suatu metode pelengkap untuk setiap ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan mulai dengan mengamati apa yang dialami secara langsung.
b. Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme: dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi, insight,dan problem solving beroperasi. Tokoh : Tolman (dengan Teori Sign Learning) dan Kohler (eksperimen menggunakan simpanse sebagai hewan coba).

F. HUKUM – HUKUM BELAJAR GESTALT
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu, yaitu hukum–hukum keterdekatan, ketertutupan, kesamaan, dan kontinuitas.
1. Hukum Pragnaz
Hukum Pragnaz adalah suatu keadaan yang seimbang. Setiap hal yang dihadapi oleh individu mempunyai sifat dinamis yaitu cenderung untuk menuju keadaan pragnaz tersebut. Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian , yaitu berarah kepada Pragnaz itu, yaitu suatu keadaan yang seimbang, suatu Gestalt yang baik. Gestalt yang baik , keadaan yang seimbang ini mencakup sifat-sifat keturunan, kesederhanaan ,kestabilan, simetri dan sebagainya.
Medan pengamatan, jadi juga setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz itu , keadaan seimbang . Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnaz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri , dan sebagainya dan pemecahan problem itu ialah mengadakan perubahan kedalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat Pragnaz.
2. Hukum-Hukum Tambahan
Ahli-ahli psikologi Gestalt telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwa objek-objek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Adapun prinsip-prinsip tersebut dapat dilihat pada hukum-hukum, yaitu :
1. Hukum Keterdekatan
Hal-hal yang saling berdekatan dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas.
2. Hukum Ketertutupan
Hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri.

3. Hukum Kesamaan
Hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas. Contohnya :

O O O O O O O O O O O O O
X X X X X X X X X X X X X
O O O O O O O O O O O O O

Deretan bentuk di atas akan cenderung dilihat sebagai deretan-deretan mendatar dengan bentuk O dan X berganti-ganti bukan dilihat sebagai deretan-deretan tegak.

4. Hukum Kontinuitas
Orang akan cenderung me
ngasumsikan pola kontinuitas pada obyek-obyek yang ada.
Contohnya :

Pada gambar diatas, kita akan cenderung mempersepsikan gambar sebagai dua garis lurus berpotongan, bukan sebagai dua garis menyudut yang saling membelakangi.

G. PENERAPAN TEORI GESTALT DALAM PROSES BELAJAR
Sebelum membahas teori Gestalt dalam proses belajar ada baiknya membahas prinsip-prinsip belajar menurut teori ini yaitu:
1. Belajar berdasarkan keseluruhan
Orang berusaha menghubungkan pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lainnya.
2. Belajar adalah suatu proses perkembangan
Materi dari belajar baru dapat diterima dan dipahami dengan baik apabila individu tersebut sudah cukup matang untuk menerimanya. Kematangan dari individu dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan individu tersebut.
3. Siswa sebagai organisme keseluruhan
Dalam proses belajar, tidak hanya melibatkan intelektual tetapi juga emosional dan fisik individu.
4. Terjadinya transfer
Tujuan dari belajar adalah agar individu memiliki respon yang tepat dalam suatu situasi tertentu. Apabila satu kemampuan dapat dikuasai dengan baik maka dapat dipindahkan pada kemampuan lainnya.
5. Belajar adalah reorganisasi pengalaman
Proses belajar terjadi ketika individu mengalami suatu situasi baru. Dalam menghadapinya, manusia menggunakan pengalaman yang sebelumnya telah dimiliki.
6. Belajar dengan insight
Dalam proses belajar, insight berperan untuk memahami hubungan diantar unsurunsur yang terkandung dalam suatu masalah.
7. Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa
Hal ini tergantung kepada apa yang dibutuhkan individu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hasil dari belajar dapat dirasakan manfaatnya.
8. Belajar berlangsung terus-menerus
Belajar tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Belajar dapat diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu setiap waktu.

Setelah membahas prinsip-prinsip teori Gestalt dapat diterapkan dalam proses belajar sebagai berikut :
1. Aktivitas suatu cabang olahraga harus dilakukan secara keseluruhan, bukan sebagai pelaksanaan gerak secara terpisah-pisah. Karena itu guru atau pelatih harus menanamkan pengertian agar siswa ataua atlet sadar aka keseluruahn kegiatan. Dengan kata lain , pemecahan keseluruahn aktivitas menjadi bagian-bagian yang teroisah akan menyebabkan siswa tidak mampu mengaitkan bagian-bagian tersebut. Karenaitu keuntungan utama dari keseluruahn permaianan yaitu menuntut siswa untuk mempersatukan bagian menjadi sebuah unit yang terpadu.
2. Tugas utama dari guru atau pelatih adalah untuk memaksimumkan transfer dari latihan diantara berbagai kegiatan. Bagi para penganut teori Gestalt, pola umum atau konfigurasi perlu untuk mempermulus terjadinya transfer diantara berbagai kegiatan.
3. Faktor insight penting untuk memecahkan masalah. Kapasitas individu untuk memecahkan masalah dalam olahraga yang sering muncul berupa sebuah gerakan refleks tergantung pada keterampilan dasar untuk melakukan gerakan yang kompleks. Karean, itu mental practis dapat dipergunakan sebagai suatu prosedur yang bermanfaat untuk memperlancar proses belajar.
4. Pemahaman tentang hubungan antara bagian-bagian dengan suatu keseluruhan penting bagi peragaan keterampilan yang efektif, karena itu seoarang pemain sepak bola misalnya, harus memiliki pemahaman kaiatn antara posisi bola, dan rangkaian dan geraknya sendiri sebelum dan sesudah dia melakukan suatu teknik seperti menendang bola, atau teknk lainya. Salah satu kelemahan dari proses pengajaran atau kepelatihan ialah kegagalan pelatih atua guru olahraga untuk menyampaikan informasi yamng menuntut atlet atau siswa untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang kaitan antara bagian-bagian didalam konteks keseluruhan


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

 Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil. Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang K√∂hler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.
 Teori gestalt banyak dipakai dalam proses desain dan cabang seni rupa lainnya, karena banyak menjelaskan bagaimana persepsi visual bisa terbentuk. Persepsi jenis ini bisa terbentuk karena:
1. Kedekatan posisi (proximity)
2. Kesamaan bentuk (similiarity)
3. Penutupan bentuk
4. Kesinambungan pola (continuity)
5. Kesamaan arah gerak (common fate)
 Prinsip-prinsip Dasar Gestalt, yaitu :
1. Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field.
2. Prinsip-prinsip pengorganisasian :
a. Principle of Proximity
b. Principle of Similarity
c. Principle of Objective Set
d. Principle of Continuity
e. Principle of Closure / Principle of Good Form
f. Principle of Figure and Ground
g. Principle of Isomorphism
 Hukum-hukum Gestal ada 2 yaitu :
1. Hukum Pragnaz
2. Hukum-hukum tambahan
a. Hukum keterdekatan
b. Hukum ketertutupan
c. Hukum kesamaan
d. Hukum kontinuitas
 Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. Belajar
2. Insight
3. Memory
 Implikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. Pendekatan fenomenologis
2. Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme
 Penerapan teori Gestalt dalam proses belajar :
1. belajar berdasarkan keseluruhan
2. belajar adalah suatu proses perkembangan
3. siswa sebagai organisme keseluruhan
4. terjadinya transfer
5. belajar adalah reorganisasi pengalaman
6. belajar dengan insight
7. belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa.
8. Belajar berlangsung terus-menerus

DAFTAR PUSTAKA

Brennan, James F. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada
Marada. 2008. Belajar Psikologi Gestalt dan Implikasinya di dalam Belajar dan pembelajaran.
Riyanto, Bambang. 2008. Teori Belajar Gestalat.
Sarwono, S. 2009. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Press
http://id.wikipedia.org/wiki/Gestalt
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/gestalt.html.
http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1854950-teori-belajar-gestalt/
http://id.wikipedia.org/wiki/Gestalt
http://rulzensation.student.umm.ac.id/2010/01/29/teori-gestalt/
http://mardhiyanti.blogspot.com/2010/04/teori-pembelajaran-menurut-aliran.html
http://blog.unsri.ac.id/widyastuti/pendidikan/teori-pembelajaran-menurut-aliran-psikologi-gestalt/mrdetail/14372/
http://stit-grogot.blogspot.com/2008/11/pada-mulanya-teori-teori-belajar-di.html